Rabu, 07 Mei 2014

Anggapan Mereka



ANGGAPAN MEREKA

Aku dianggap tinggi oleh mereka. Hal ini menjadi beban terberat di pundakku.
Tetapi ketika keyakinan itu menyeruak dalam masuk dalam relung jiwa
dan berkata aku siap dan siap apapun yang akan kuhadapi dan kuberikan
Jangan jadikan hal ini sebagai beban, tetapi jadikanlah sebagai amanah yang harus engkau laksankan dengan penuh tanggung jawab
Pagi cerah di bumi desa lambangan desa tercintaku tempat dimana 20 tahun yang lalu sampai sekarang aku dibesarkan di sana dengan segenap pengalaman suka duka. Aktivitas pagi seperti biasanya, ketika kumenapaki kembali tempat kelahiranku tak banyak yang bisa kubantu pekerjaan orang tuaku di sawah. Hanya sebuah kewajiban untuk mengurus keperluan rumah seperti mencuci baju, mencuci piring, menyapu dll. Sebenarnya aku merasa kurang pantas, tetapi mau apalagi aku tak sanggup untuk memberikan bantuan ke sawah.
Pagi itu kumulai aktivitas menyuci bajuku dengan mengucek semua baju-baju yang telah direndam dengan deterjen. Setelah semuanya selesai bersamaan dengan terik matahari pagi yang mulai menghangatkan tubuh seluruh isi dunia aku pergi ke sungai untuk membilas semua cucianku. Disana aku bertemu dengan tetanggaku yang sedang mencuci. Beliau sudah tua seumuran dengan nenekku. Beliau tinggal sendiri di rumah karena anak-anaknya sudah pada berumah tangga dan mempunyai rumah masing-masing. Nenek tersebut sangat halus bicaranya. Dan telah diketahui semua orang bahwa nenek tersebut sangat sopan danhalus dalam berbicara.
Ketika perbincangan mulai mengarah kepadaku. Beliau menganggap aku tinggi. Iya tinggi karena kini aku sedang menempuh pendidikan tinggi. Beliau memujiku dan keluargaku dengan kebanggaan. Belaiu salut dengana anak yang bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Beliau merendahkan diri dan menceritakan tentang aktivitas kesehariaanya menjadi buruh atau kuli di sawah. Ya Allah sungguh beban yang sangat berat bagiku.
Ketika semua menganggapku tinggi apakah aku sudah layak untuk mendapatkan ketinggian itu. apakah aku disini sesuia dengan harapan mereka. Apa yang bisa kulakukakn kelak untuk membuktikan ketinggianku sebagai bagian dari anggota masyarakat. Apa yang bisa aku berikan untuk mereka para kaum yang berpendidikan rendah. Apakah aku kelak layak untuk dijadikan inspirator bagi mereka? 
Spechless jalan fikirku berubah drastis. Aku yang mungkin kata orang-orang bisa dianggap pinter dan tinggi merasa masih belum pantas untuk mendapatkan pujian. Aku yang masih galau dengan situasi dan kondisi. Aku yang amsih dengan lalainya dengan tanggung jawab dan kewajiban. Aku yang sering merasa inder dan takut untuk melangkah. Pantaskah aku menjadi harapan mereka para kaum berpendidikan rendah? Ya Allah berat sekali pencitraan itu bagiku. Tetapi aku yakin aku akan melakukan semaksimal mungkin bisa mmeberikan manfaat bagi mereka. Walaupun mungkin saat ini aku belum bisa memberikan arti bagi mereka dari segi materi dan inspirasi. Aku yakin dengan kesadaranku aku bisa memberikan arti bagi mereka terutama bagi keluaragaku. Walaupun hanya sebagai calon guru yang kelak nantinya akan menjadi guru yang kesehariaanya berhubungan dengan anak SD tetapi yang namanya manusia selalu berhubungan manusia lain baik muda maupun tua. Semoga aku bisa memberikan inspirasi dan manfaat bagi mereka di lingkungan tempat tinggalku. J J J

Selasa, 06 Mei 2014

Tanggal Hari Ini



Tepat tanggal pada hari ini selalu menjadikan patokan untukku melangkah. Tetapi langkahku memang tak semulus jalan tol, tak secemerlang bintang yang bersinar.
Tepat tanggal pada hari ini sekitar lima tahun yang lalu aku bahagia aku mencoba memberanikan diri untuk bisa menjalin hubungan dengan yang lain layaknya usia remaja lain pada kala itu. akupun percaya saat itu merupakan anugerah terindah sehingga aku menemukan orang yang mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hati. Apakah itu hanya perkiraanku. Akupun melepas status menjadi perempuan yang tidak lagi ditakuti oleh kaum adam semasa sekolah menengah pertama. Aku percaya dialah yang mencintaiku yang dikirimkan oleh Allah untukku. Dan aku sangat mempercayainya. Selang beberapa bulan ternyata ia memutuskan untuk tidak lagi bersamaku. Tahukah kalian saat itu aku sudah benar-benar mencintainya sedalam samudera hindia. Tetapi cinta tak mungkin dipaksa akupun pura-purasudah tidak mencintainya. Padahal aku mencintainya sangat dalam. Ya sudahlah mungkin ini cobaanku dan sekaligus cobaan terberatku.
Tepat tanggal pada hari ini sekitar 4 tahun yang lalu hatiku masih tetap sama. Berusaha dengan keras untuk melupakannya sampai-sampai aku selalu menelan pil pahit kecemburuan, pil pahit kegetiran, pil pahit yang membuat hatiku semakin kronis. Aku selalu mencoba untuk move on tetapi akupun tidak mampu. Hanya tangisan yang kuumbar dalam hati ketika melihat kenyataan yang menyakitkan. Akupun hanya bisa diam mencintai dalam angan tanpa mengharapkan balasan.
Tepat tanggal pada hari ini sekitar 3 tahun yang lalu ketika kusemakin mencoba untuk melupakannya rasa itu semakin tak karuan menggerogoti jiwa. Aku semakin melatih diri untuk tegar atas semua kenyataan yang membuat air mata menetes. Kukira aku akan secepat itu melupakannya ternyata aku masih tetap mencintainya. Entah apa yang membutaku mencintainya. Hingga anganku selalu berarah tentang dirinya. Kemanakah rasa cintaku berlabuh ya Allah.
Teapat tanggal pada hari ini sekitar 2 tahun yang lalu masih dengan harapanku untuk bisa melupakannya. Tetapi agak lebih santai ketika aku akan menghadapi ujian nasional SMA beserta mempersiapkan diri untuk meraih masa depan di perguruan tinggi. Aku sempat bisa move on tetapi seperti sebelum-sebelumnya aku selalu mengingatnya tiada detik yang hilang tanpa mengingatnya.
Tepat tanggal pada hari ini sekitar 1 tahun yang lalu aku mulai bisa melupakannya. Karena aku merasa risih dengan tingkah lakunya yang mempermainkan perempuan dengan seenaknya. Hingga seketika mendengar kabar kalau dia seperti itu sontak suasana hatiku berubah dengan cepat. Ya rasa untuknya telah hilang bak di telan bumi. Akupun mulai terbiasa dengan sahabatku yang selalu menemaniku setiap hari. Aku mulai bisa menata hati untuk tersenyum.
Tepat tanggal pada hari ini, rasanya aku kembali dihampiri rasa tentang dia. Harus kupercayai ataupun tidak, kemustakhilan sudah menyeruap dalam angan. Tidak mungkinlah aku manusia yang seperti ini bisa mendapatkan sepertinya. Aku menargetkan bisa bersamanya lagi ataupun bisa dengan yang lain. Tanggal ini yang selalu kujadikan patokan untuk perkembangan langkahku. Ah aku hanya bisa berusaha dan berharap. Nadzarku tentang tanggal inipun belum terwujud. Ah semoga Allah mempunyai rencana lain yang lebih Indah daripada rencanaku.
Itulah mengapa aku menspesialkan tanggal pada hari ini. tentang keinginan dan harapanku yang belum bisa membuatku tersenyum. Sudahlah Allah yang maha mengatur segala kehidupan manusia. walaupun tak semua target tercapai pada tanggal tepat pada hari ini, kuyakin apa yang aku inginkan dan harapkan akan tercapai di tanggal-tanggal yang lain jika telah mendapatkan izin Allah. :-) aku selalu percaya dan yakin
Ikhlas akan takdir yang telah digariskan J J J

Senin, 16 Desember 2013

Perebutan Kursi Petinggi Desa



Jauh-jauh hari telah digembar-gemborkan semenjak masa akhir jabatan kepala desa, yakni akan adanya pesta demokrsi di desa “pemilihan kepala desa”. Semua warga telah mempersiapkan membrikan dukungan terhadap calon-calon pemimpin yang akan mengaktualisasikan seluruh kemampuanya dengan jiwa kepemimpinannya untuk desa tercinta.
Warga mulai berbondong-bondong bergerombol memusat untuk mendukung calon yang akan memimpin desa ini. Cuaca mulai memanas dan suhu politik mulai meningkat ketika awal bulan oktober merupakan pendaftaran bakal calon yang akan mengisi kursi pemimpin desa. Para tim sukses mulai mengambil strategi sejak dini, mengadakan blusukan ke tiap-tiap rumah warga. Dan iklim politikpun mulai memanas.
Bagi warga biasa, ajang pemilihan kepala desa menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Karena pada masa ini akan ada gambar soekarno hatta yang bertebaran dimana-mana. Apalagi bagi warga yang tidak memiliki hubungan atau dukungan bagi calon-calon atu bisa diartikan sebagai orang netral. Mereka akan mendapatkan amplop dari semua calon kepala desa.
Mendekati hari H pemilihan kepala desa, mulai kucermati bagaimana sistem politik yang terjadi di desaku. Dan mungkin inilah yang menjadi tradisi yang sudah mendarah daging dan sejak lama ada turun-temurun. Aku tak bisa menyalahkannya, namun aku berhak beropini tentang apa yang terjadi di desa ini. Mungkinkah ini yang telah menjadi sistem demokrasi warga.
Demokrasi hanya berdominasikan dengan tebalnya isi amplop. Mereka lebih memilih pemimpin yang memberikan uang yang banyak. Dan terkadang anehnya materi dijadikan sebagai jaminan sebagai dorongan untuk mendaptkan suara yang dikehendakinya. Para calon rela membayar lebih hanya untuk mendapatkan suara terbanyak.
Kemudian bagaimanakan hakikat pemimpin di desa ini. Kekerabatan mungkin yang kutangkap dari tema pemilihan kepala desa. Bukankah ada yang lebih penting dari sebuah kekerabatan. Janji, visi, dan misi mereka yang menurutku lebih kupertimbangkan. Namun, bukan berarti aku tak memilih kerabatku ketika ada salah satu dari kerabatku yang mencalonkan diri sebagai kepala desa. Aku hanya berspekulasi mengambil kesismpulan dari pilkades kemarin, yaitu kekerabatan dan dendam. Dua kata tersebut yang bisa kuungkapkan. Tentang dendam menurutku wajar adanya. Masyarakat yang menjadi pendukung pemimpin yang telah berhasil memenagkan pilkades, kelak nantinya berpotensi mengisi posisi terpenting di aparat pemerintahan desa. Terlebih jika mereka kerabatnya. Akan lebih diprioritaskan. Bukankah ini termasuk praktik nepotisme. Terus apakah selama ini demokrasi disalahartikan. Ataukah ini memang tradisi yang telah mengakar. Seperti inikah konsep demokrasi negeri ini. Para kerabatnya berbondong-bondong untuk mengisi posisi yang ditawarkan. Seperti halnyasebuah kompetisi tentunya ada yang menang dan ada yang kalah. Nah, bagi yang kalah, otomatis mereka akan menghakimi sendiri tabiat sang pemimpin. Mencemarkan nama baik sang pemimpin. Bukankah setiap manusia memilik hak yang sama. Dan dendamlah yang akan terjadi. Menyimpan dendam yang teramat dalam. Menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang atau berselimutkan kebencian. Padahal rumah mereka hanya berbataskan sekat dinding. Kemudian inikah sikap warga yang menjunjung tinggi demokrasi ??
Entahlah aku yang belum mengetahuiinya ataukah aku yang salah memberikan persepsi. Selama ini yang kulihat baru seperti itu, aku belajar hidup di masyarakat. Dan ternyata seperti itukah sistem kehidupan di masyarakat. Tradisi ataukah evolusi yang kupahami mungin belumlah sempurna. Karena aku baru berusia kepala dua. Masih banyak cerita-cerit lain yang seharusnya aku cermati, aku ambil manfaatnya untuk bekal hidup di masyarakat.

Ceritaku 24 Nopember 2013

Selasa, 26 November 2013

Berbagi Ilmu Berbagi Pengamalan


Sekeping Logam Untuk Sang Penjelajah Bis
By : Junaidah
Setiap kali raga ini melintasi sepanjang jalan menuju kentingan kampus utama UNS. Ataupun ketika aku mudik ke kampung halaman. Setiap pulang dari solo ke purwodadi menaiki bus Rela. Ketika sampai di perempatan taman tirtonadi atau di rel masuk kota solo yang lebih dikenal dengan joglo. Setiap kali kumelintasi jalan itu selalu kutemui para pengamen jalan yang memetik senar ukulelenya demi mengaharapakna sekeping uang logam dari para penumpang bus. Seringkali tak satupun dari mereka yang memberikan sebagian rizkinya untuk para pengamen. Tidak perlu disalahkan untuk mereka. Ada alasan tersendiri bagi mereka tidak memiliki uang receh, memang benar-bearpelit, ataukah mereka tidak mau membiarkan para pengamen menggantungkan hidupnya dengan meminta-meminta melalui sarana bernyanyi dari satu bis ke bisa yang lain.
Akupun tak munafiq seringkali merasa risih dengan dandanan mereka yang kumuh ketika baru naik ke atas bis. Danadanan mereka yang kumel, rambutnya disemir gimbal, dengan baju yang compang-camping, bolong-bolong, serta kadang bau yang agak mengganggu. Namun, dibalik penampilannya terkadang ada yang membuat kita merasa terkagum dengan lagu yang dilantunkan. Suara mereka sangat bagus, dan musik yang dimainkannya cukup indah. Hal itu yang membuat aku terkagum.
Melihat fenomena di atas, seharusnya mereka yang memiliki bakat menyanyi diberikan hak yang sama dengan yang lain. Seharusnya mereka dikumpulkan dan diberikan pendidikan khusus tentang dunia musik. Mereka sama dengan yang lain yang berhak mendapatkan pendidikan di Indonesia. Seharusnya pemerintah memberikan kesempatan mereka untuk terus mengasah bakatnya lewat layanan yang diakui oleh pemerintah. Sehingga mereka tak berkeliaran dari satu bus ke bus yang lain.
Petikan ukulele sang pengamen, tabuhan kendang sang pengamen, petikan gitar sang pengamen jalanan, ataupun hanya lantunan suara dari mereka telah menjadi hiburan tersendiri bagi para penumpang bus. Dibalik aksi naik turunya di bus, kita tak pernah tau kehidupan mereka yang sebenarnya. Setragis yang kita bayangkan ataukah berbading terbalik dengan yag kita asumsikan. Terkadang sebagian penumpang yang gemes dengan adanya pengamen jalanan. Ada kalanya mereka pura-pura tidur ketika sang pengamen memutarkan bungkus plastiknya dari satu tempat duduk ke tempat duduk yang lain. Apresiasi terhadap penampilan  mereka masih rendah. Masyarakat masih bersifat egois dengan rizkinya yang telah diberikan kepada Allah. Seperti hal yang telah saya ungkapkan di atas, setiap orang mempunyai prinsip tersendiri dalam mengahadapi pengamen jalanan. Namun, yang terpenting bagiku tetaplah berbagi rizki dengan makhluk Allah yang lain. Tidak ada salahnya jika kita sedikit meluangkan sebagian rizki kita untuk yang lain walaupun hanya sekeping gopek. Dengan seperti itu, kita berharap dapat membantu mereka untuk sekedar mencari sesuap nasi dengan cara naik turun bus.
Semoga Bermanfaat dan menjadi renungan bagi kita semua.

Senin, 23 September 2013

Rasa yang tak pernah bisa kumengerti

Senja kebahagiaan telah terganti dengan mendung hitam. aku kehilangan sinar-sinar terang penerang kehidupan. cahaya redup mulai melanda kehidupanku. aku kehilangan kebiasaan yang membuatku nyaman. aku sempat shock melihat kenyataan yang lain dari yang aku kira. semua berubah 180 derajat. 
aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kehidupanya. dia telah pergi dengan dunia barunya. dunia yang seakan membuatnya terbebas dari kurungan kegalauan. aku senang ketika melihatmu bisa bangkit menapaki hidup ini dengan semangat baru. namun di sisi lain aku yang harus menanggung perasaanku. aku terlanjur mempunyai rasa dengan kamu. mulai saat itu dan hingga sekarang.
hanya sisa-sisa harapan yang kini masih kusimpan. ada kalanya aku tersenyum sendiri dengan segala angan-anaganku dulu. namun harus kuteteskan air mata ini hanya karena perubahan yang terjadi pada kamu. masihkah engkau menganggapku sebagai sahabatmu???? aku tak pernah menghiraukan rasa yang sedang bersarang di hatiku. aku tak menghiraukanya. aku hanya ingin persahabatan yang dulu kembali ke kehidupanku sekarang, aku butuh dan aku butuh.......
semoga engkau memahami keinginanku

Minggu, 22 September 2013

Rasa Tak Terbatas Harapan :'(

Entah apa yang menyelinap dalam jalan hidupku hingga aku bisa dekat denganmu. awalnya mungkin hanya gurauan belaka akupun bisa merasa nyaman denganmu. saat-saat membahagiakan ketika aku menemukan teman curhat senyaman kamu. kedekatan itupun tidak pernah kuanggap berharga, karena aku tahu aku bukanlah siapa-siapa. hanya sebuah kerasa nyamanan membuatku sering bertukar pikiran dan bercanda dengan kamu. begitupun aku sering menanyakan kabar rasa yang ada di hatiku kepadamu. untungnya kamu adalah tetangganya. 
aku senang bisa bersahabat dengan kamu. walalupun mungkin hal ini dianggap aneh oleh segelintir orang. mengapa aku bisa mengenalmu sedekat ini. engkau layaknya sahabat penaku yang hilang. semua datang di kamu. dan akupun percaya dan memahami. selang beberapa bulan bahkan beberapa tahun persahabatanku mulai dibumbui oleh rasa cemburu oleh kekasihmu. tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali diam. aku merasa bersalah untuk hari itu yang telah menjalin persahabatan yang terlalu dekat. saat itu kau pun meminta aku untuk jauh darimu. oke fire,,,, aku terima. itu keputusanmu dan aku menghargainya. engkaupun tak pernah bisa memahami arti keputusan menghargaimu. kamu tak pernah bisa bertindak arif.
setelah engkau berpisah dari si dia. engkaupun kembali kepadaku kepada persahabatan yang dulu. aku bahagia akhirnya aku bisa bersahabat lagi dengan kamu. rasa persahabatan itu biasa saja. aku lebih menjaga image yang pernah terjadi dulu kala. hingga saat itu aku mulai kembali menebar senyum. aku tak lagi terpenjara oleh rasaku yang brutal. perlahan-lahan rasa brutalku menghilang bersamaan jalinan persahabatanku dengan kamu hingga saat ini.
tiba-tiba sering terjadi rasa yang aneh. aku tak pernah memperdulikanya aku hanya nyaman jika bersahabat dengan kamu. aku tak pernah menginginkan rasa itu ada. namun, sang waktu berbicara lain. ia menuntunku ke kamu dan perasaan ini. kaupun sedikit demi sedikit memaknai arti setiap jengkal pemikiranku. kamu mengetahui aku mempunyai rasa yang aneh. ternyata engkau menganggapnya biasa. aku tidak ingin rasa itu ada.
sampai saat ini rasa itupun masih ada. sering kualami kegelisahan hingga menyebabkan tiap detik aku harus membuka dindingmu. sekarang hanya ada rasa cemburu. bukan kepada mantan kekasihmu tetpai kepada kawan barumu. saat yang kulalui saat ini begitu berat serasa mendapat ujian yang harus aku alami. mungkin ini hal yang sepele bagi mereka yang lain. namun ini aneh untuku. sekarang duniamu baru dan berbeda dengan yang dulu. kenapa tak bisa kurubah rasaku sedinamis kehidupanmu.
aku tersiksa dengan keadaanku. aku menganggapmu sahabat tetapi mengapa aku harus cemburu dengan kawan-kawan barumu. orang menyuruhku bilang kalau aku suka kamu, tetapi aku sendiri merasa tak pantas buat kamu. aku bilang aku tak akan memikirkanmu tetapi mengapa aku selalu mengkhawatirkanmu. aku serba salah dengan keadaanku dan perasaanku.
mungkin aku selalu berkata let it flow, tetapi aku tak pernah bisa mengambil keputusan yang bijak. benar apa kata temanku semua kegalauanku bersumber dari fikiranku yang tak bisa menganggap kecil sebuah peristiwa. benar juga kata temanku aku sering bilang let it flow. tetapi aku hany membiarkan perasaan itu mengalir saja. aku tak pernah bisa mengambil keputusan untuk meninggalkan ataukah mengejar. tetapi pantaskah aku seorang perempuan untuk mengejar????
rasanya aku malu menjadi seorang aku, yang tidak bisa menata perasaanku sendiri. aku bisa menasehati yang lain. tetapi mengapa hatiku sendiri yang terombang-ambing oleh prioritas keputusan antara jujur dan gengsi.

semoga engkau mengerti semua tetesan ungkapan hatiku ini.