Senin, 23 Maret 2015

PERAN PENDIDIK DALAM MENCETAK GENERASI INDONESIA YANG BERKARAKTER SEBAGAI UPAYA MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045 Oleh : Junaidah PGSD/K7112122/VIB



Pada tahun 2045 Indonesia genap memperingati 100 tahun kemerdekaan Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Indonesia emas. Tahun di mana tantangan perkembangan zaman yang semakin besar. Dalam menyongsong Indonesia emas 2045 indonesia harus mempersiapkan sumber daya manusia yang handal. Telah kita ketahui berita dari media massa baik cetak maupun elektronik yang memberitakan kasus-kasus kejahatan dan kriminalitas yang melanda bangsa ini yang semakin merajalela. Oleh karena itu, tentunya kita tidak ingin para generasi penerus bangsa menjadi hancur karena kasus-kasus tersebut. Banyak dari kalangan akademis yang tersangkut dalam kasus korupsi. Padahal dari segi intelektual mereka tidak diragukan lagi. Tetapi sayangnya lemahnya moralitas serta tuntutan perilaku yang konsumtif dan hedonis menjadikan mereka tersangkut kasus-kasus tersebut. Upaya untuk memperbaiki Sumber Daya Manusia menuju Indonesia Emas 2045 adalah upaya pendidikan karakter. Bangsa ini tidak hanya menginginkan generasi yang cerdas dari segi intelektual dan ketrampilan tetapi yang lebih penting adalah generasi yang bermoral. Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan.
Hakikat Pendidikan
            Sesuai dengan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari kutipan yang terdapat pada UU RI No 20 tahun 2003 Tentang sistem pendidikan nasional sudah jelas bahwa pendidikan bukan hanya terfokus untuk mencetak generasi yang cerdas tetapi juga berfokus untuk mencetak generasi yang berkarakter. Dalam hal ini pendidikan sebagai sarana untuk belajar siswa memiliki peran yang sangat penting dan diharapkan mampu menjadi lembaga yang mampu mencetak generasi yang cerdas dan berkarakter. Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)
            Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Sebagai wujud peningkatan kualitas pendidikan bangsa Indonesia pemerintah melalui bidang pendidikan hendak memperbaiki sumber daya manusia khususnya upaya perbaikan karakter bangsa. Dalam hal ini guru sebagai pendidik di sekolah mempunyai tanggungjawab yang besar untuk mencerdaskan siswa. Pendidikan karakter sebagai upaya untuk memperbaiki moral generasi bangsa diinternalisasikan melalui lembaga pendidikan formal yaitu sekolah. Lembaga pendidikan atau sekolah memiliki tugas untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia
Guru Sebagai pendidik
            Pada umumnya Istilah mengajar dan mendidik sering disamakan maknanya. Pada hakikatnya konsep mengajar dan mendidik memiliki perbedaan. Mengajar merupakan upaya untuk mentransfer pengetahuan/knownledge. Sedangkan mendidik meupakan upaya untuk mentransfer knownledge and value. Guru sebagai pendidik tidak hanya bertugas untuk mengajar, namanya saja pendidik guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran di sekolah tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Proses pendidikan anak pertama kali berlangsung di dalam lingkungan keluaraga. Selain orang tua sebagai pendidik utama tentunya lembaga pendidikan sebagai tempat belajar siswa memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsa. Dalam hal ini guru sebagai subjek dalam pendidikan yang langsung berinteraksi dengan siswa memiliki peran dalam pembentukan karakter siswa dalam rangka mempersiapkan generasi emas 2045. Guru sebagai pendidik di sekolah merupakan suri tauladan bagi siswa. Selain sebagai suri tauladan bagi siswa guru memiliki peranan yang lain yang sangat penting bagi perkembangan karakter anak.
            Guru merupakan orang tua kedua bagi anak. Guru merupakan orang tua ketika di sekolah. Menjadi pendidik atau guru merupakan tugas mulia manusia. Pada hakikatnya semua manusia adalah guru/pendidik. Namun dalam hal ini pendidik yang dimaksud adalah pendidik dalam lembaga pendidikan. Peran guru sangat penting terhadap perkembangan anak. Karena guru memiliki tanggungjawab penuh terhadap perkembangan anak di sekolah.         
Guru Sebagai Suri Tauladan yang baik
            Istilah “Guru” dalam bahasa jawa sering diungkapkan sebagai “digugu lan ditiru”. Dalam bahasa jawa tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia profesi seorang guru adalah identik dengan dipatuhi dan dicontoh. Maksudnya “digugu” atau dipatuhi adalah segala hal perkataan dan perintah guru harus dipatuhi oleh peserta didik. Sedangkan “ditiru“ memiliki arti dicontoh yakni meliputi tindakan dan perkataan guru dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak sekolah khususnya tingkat dasar lebih memilih percaya pada perkataan guru daripada orang tuanya sendiri. Misalnya dalam hal pelajaran guru mengajarkan materi pelajaran tentang kesehatan, sedangkan di rumah ketika siswa belajar dengan orang tua terkadang dengan materi yang sama namun isinya sedikit berbeda siswa. Maka anak tersebut akan lebih percaya pada jawaban dari guru ketika di sekolah. Walaupun siswa tersebut belum tentu mengerti mana kebenaran yang asli. Selain dalam hal pembelajaran atau wawasan, dalam hal tingkah laku guru ketika di kelas menyampaikan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh siswa. Namun, ketika di rumah orang tuanya mengatakan yang berbeda siswa tersebut biasanya mengatakan kepada orang tuanya  “kata bu guru seperti ini, bukan kayak gitu”.
            Dari pemaparan contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa peran guru dalam mendidik anak di sekolah sangat mengena bagi siswa. Terlebih bagi pendidikan tingkat dasar. Pendidikan dasar merupakan fondasi awal dalam proses pendidikan yang dijalani oleh anak setelah pendidikan di keluarga. Sebagai pendidik yang memiliki peran utama mencerdaskan kehidupan bangsa, sebaiknya membekali diri agar bisa menjadi suri tauladan yang baik untuk peserta didik. Dengan harapan sikap yang baik dari guru akan berpengaruh dan ditiru oleh siswa sehingga siswa akan senantiasa menjadikan kebiasaan yang nantinya akan melekat di hati anak.
Guru sebagai penentu Tata Tertib di sekolah
            Sekolah memiliki aturan dan tata tertib khusus bagi siswa-siswanya. Tata tertib tersebut dibuat oleh para guru beserta tenaga pendidik di sekolah yang disesuaikan dan dipertimbangkan secara matang. Hal ini bertujuan agar siswa mampu berdisiplin dan tertib terhadap aturan yang berlaku. di dalam sekolah setiap kelas memiliki tata tertib sendiri yang tentunya lebih khusus. Peraturan itu dibuat khusus untuk ketertiban di kelas. Biasanya pada tahun ajaran baru sebelum guru kelas memulai kegiatan pembelajaran guru membuat tata tertib dan konsekuensi yang ditetapkan bersama dengan siswa. siswa diajak untuk membuat peraturan kelas. Menurut Syamsul Yusuf (2000) Pada usai sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti peraturan dan tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa usia anak sekolah dasar sudah mampu menyadari akan peraturan dan pentingnya peraturan. Khususnya di sekolah. Melalui tata tertib yang dibuat dan disepakati bersama akan mampu melahirkan anak-anak yang disiplin, patuh,  dan bertanggung jawab. Anak sekolah yang mematuhi tata tertib akan manjadikan kebiasaan bagi mereka. Sehingga ketika sejak kecil mereka sudah terbiasa dengan taat pada peraturan diharapkan dapat menjadikan kebiasaan yang tertanam dalam diri mereka.
Pemilihan Strategi Pembelajaran
            Seiring dengan perkembangan zaman yang didikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan bagi dunia pendidikan. Pendidikan sebagai suatu hal yang urgen akan memiliki dampak terhadap perkembangan Sumber Daya Manusia suatu negara. Seiring dengan berkembangnya kurikulum menuntut para kalangan akademis ataupun ilmuwan menciptakan strategi, pendekatan, model, metode, media dan teknik pembelajaran yang terbaru. Hal tersebut dilakukan karena mengingat strategi pembelajaran di sekolah pada zaman dulu dianggap konvensional dan kurang memberikan hasil belajar yang bermakna bagi siswa.
            Banyak jenis-jenis strategi yang muncul yang dikaitkan dengan aspek-aspek kehidupan. Guru sebagai pendidik tentunya memilki hak otoritas untuk memilih strategi mana yang tepat. Namun, mencuatnya pendidikan karakter baru-baru ini membuat guru berfikir keras untuk mengemas suatu pembelajaran yang bernilai karakter. Salah satu langkah guru adalah melalui pemilihan strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran yang dipilih hendaknya yang secara tersirat mampu membentuk karakter siswa.
            Pendidikan karakter di sekolah tidak secara langsung menjadi suatu bidang studi/mata pelajaran khusus, tetapi melalui internalisasi dalam setiap strategi pembelajaran. Misalnya dalam memilih model pembelajaran cooperative learning yang tujuan utamanya meningkatkan sikap kerjasama peserta didik, Model pembelajaran kontekstual dapat melatih siswa untuk peduli terhadap lingkungan sekitar, Model pembelajaran discovery learning mampu membentuk sikap rasa ingin tahu dan kreatif bagi peserta didik. Selain strategi pembelajaran dalam bentuk model atau metode, nilai-nilai kearifan lokal atau budaya dapat diinternalisasikan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut, sebagai upaya untuk mengenalkan kepada peserta didik tentang buaya lokal. Sehingga karakter cinta budaya akan senantiasa terbentuk.
            Walaupun pendidikan karakter tidak secara langsung diberikan alokasi pembelajaran, namun melalui strategi pembelajaran yang tepat akan melahirkan generasi yang bukan hanya kuat intelektualnya tetapi kuat moralnya. Itulah mengapa strategi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak. Guru seharusnya memilih-milih stategi yang menarik dan bernilai karakter.
Kerjasama Guru dan Orang tua
            Sekolah merupakan tempat pendidikan kedua bagi siswa setelah pendidikan dalam keluarga. Anak mulai mendapat pendidikan ketika ia pertama kali lahir dan dibesarkan di dalam lingkungan keluarga. Otomatis keluarga memiliki peranan yang sangat penting bagi pendidikan anak. Setelah anak memasuki dunia sekolah maka orang tua melimpahkan proses pendidikannya anak kepada guru ketika di sekolah. Tetapi proses pendidikan dalam keluarga tetap berlangsung. Pihak pendidikan yang diberi wewenang dalam mendidik anak secara tidak langsung memiliki tanggung jawab terhadap proses perkembangan anak. Oleh karena itu, guru tidak mungkin bisa berjalan sendiri tanpa bantuan dari orang tua. Guru harus melakukan kerja sama dengan orang tua agar visi dalam mendidik anak dapat searah dan sejalan. Guru dapat melakukan komunikasi dengan orang tua dalam hal perkembangan anak. Agar pendidikan sikap disekolah dapat selaras dengan pendidikan di rumah. 
100 tahun kemerdekaan indonesia merupakan karunia tuhan yang terindah. Melihat perkembangan bangsa ini sejak zaman penjajahan hingga bisa dikatakan negara berkembang dengan pesat. 100 Tahun kemerdekaan Indonesia tentunya menjadikan harapan yang lebih baik bagi bangsa ini. Perbaikan Sumber Daya Manusia menjadi salah satu fokus utama dari bangsa ini agar mampu bersaing di dunia internasional. Melihat berbagai fenomena krisis moralitas bangsa ini menjadikan gagasan pendidikan karakter semakin digalakkan. Lembaga pendidikan khususnya pendidik atau guru memiliki peran utama dalam pembentukan karakter anak. Semoga dengan adanya optimalisasi peran guru dalam mendidik peserta didik dapat melahirkan generasi bangsa yang berkarakter agar mampu menuju indonesia emas 2045.

Jumat, 05 September 2014

Vitalis dan Cerita 5 Tahun yang lalu



parfum itu selalu membawaku pada kenangan cerita 5 tahun yang lalu
aku menghela nafas untuk kembali menngunakan parfum itu
lima tahun yang lalu aku menggunakannya saat aku menjalin hubungan dengan dia
hingga semua aktivitas dan kegiatanku sehari-hari tak lepas kumemakai parfum itu
setelah kuputuskan untuk tak bersama lagi dengan dia
bertahun-tahun aku tak berani menggunakan parfum itu
aku selalu bisa mendeteksi orang-orang yang memakai parfum itu
dan jika indera pembauku mencium bau parfum itu
pikiran dan ingatanku akan selalu berujung pada kisah 5 tahun yang lalu

aku sadar aku salah
selalu menganggap hal kecil menjadi petaka besar untuk hidupku
menjadikan hati bersendu hingga tetes air mata mengalir dengan derasnya
hanya karena mengingatnya
itu dulu bertahun-tahun sejak 5 tahun yang lalu

sekarang, aku tak lagi takut untuk menggunakan parfum itu
aku tak lagi mempermasalahkan wangi parfum itu
cerita yang lalu biaralah berlalu
sekarang hanya untuk memikirkan cerita sekarang dan cerita masa depan
aku hanya selalu teringat kebersamaan dengan sahabat-sahabatku 5 tahun yang lalu
semua sahabatku yang kini perlahan-lahan telah melepas masa lajangnya
atau yang masih berjuang menuntut ilmu dan mencari pengalaman
karena masa lalu bukan untuk disesali tetapi untuk dipelajari
untuk bekal masa depan yang lebih baik
tentunya tak selalu kita menoleh ke belakang
yang akan menghalangi keyakinan kita untuk melangkah menyongsong masa depan

Kami Menolak !!!!!

Jum'at, 21 Februari 2014



Seperti itukah ego orang yang bertumpuk uang. Tak memikirkan masa depan lingkungannya. Kami bukan orang tempo dulu yang mudah engkau kelabuhi dengan segepok uang. Halaman rumah kami akan  digunakan dengan sebagai gudang. Mungkin setiap bulan sekali atau setahun kami akan menerima uang sebagai  ganti sewa tempat. Namun, tak semudah itu untuk membohongi kondisi kami. Tak akan bisa seimbang dengan derita kami yang setiap hari akan berkutat dengan hewan-hewan kecil yang berbahaya. Belum lagi harus menanggung bau yang menyengat. Secara tegas kami menolak dan meolak. Mungkin halaman tetangga yang luas merupakan ladang bisnis menggiurkan. Tetapi kami tegaskan lagi kami bukan sekelompok orang yang gila harta. Mungkin jika dizinkan lama kelamaan tanah halaman akan berganti hak milik dan sertifikat halaman akan berganti nama. Dan itulah ketakutan kami. Walaupun kami memang hidup sederhana dengan kondisi rumah yang seadanya tetapi kami bisa bahagia. Kami bukan penggila harta dengan iming-iming segepok uang yang akan memutus masa depan. Mungkin segepok uang akan membahagiakan kami saat itu. Tetapi untuk beberapa tahun lagi kesengsaraanlah yang akan menghantui. Dengan kondisi pertumbuhan manusia yang meningkat dengan kondisi lahan yang tetap tak memungkinkan untuk dimana tepat tinggal 25 tahun lagi. Dan yang kupertimbangkan adalah masa depan bukan masa sekarang. Dengan tanah yang serba terbatas insya’allah akan kami pertahankan untuk masa depan anak cucu. Jika sebagian tanah kami lepaskan itu berarti tempat tinggal kami nanti akan semakin sempit dan sumpek. Dan anak cucu kami akan tinggal dimana? Satu-satunya yang kami punya hanya ini warisan dari orangtua.
Kali ini mencoba kembali untuk menawari kami untuk menjadikan halaman sebagai tempat parkir mobil. Halaman akan dicor dengan pasir dan semen. Sekali lagi kami nyatakan kami tidak mau. Kami mengetahui dampak yang akan terjadi nantinya jika halaman dicor. suhu udara akan semakin panas. Dan kami tidak bisa lagi menanam pohon-pohon buah untuk penghijauan. Di era globalisasi, dampak dari pemanasan global semakin mengenaskan. Walaupun dengan satu dua pohon kami berusaha untuk menguranginya  dengan cara penghijauan agar lingkungan kami bisa bernafas dengan lancar. Dengan kondisi antar rumah yang minim ventilasi sebagai akibat menyempitnya lahan berwujud atar rumah saling berdempetan tak ada celah. Kami mencoba untuk mengatasinya. Dengen mempertahankan halaman untuk penghiajauan kami. Masihkah akan menwari??? Dan sekali lagi kami nyatakan kami menolak.

Politik Bagi Kaum Bersarung


Ahad, 23 Februari 2014

Sebentar lagi pemilu sebagai pesta demokrasi akan berlangsung untuk kesekian  kalinya di negeri ini. Pada tahun ini pemerintah akan menyelenggarakan pemilihan umum yang meliputi pemilhan anggota legislatif baik tingkat kabupaten, daerah dan nasional. Setelah pemilihan anggota legislatif, akan dilanjutkan dengan pemilihan pemimpin  presiden dan wakil presiden.
Menjelang pemilihan umum yang akan diselenggarakan bulan April nanti, jalan-jalan kini dipenuhi oleh gambar baliho, spanduk, poster, gambar dll. Selain media cetak, televisi dan dunia maya juga menjadi sebagai sarana untuk kampanye melalui iklan-iklan untuk menarik hati rakyat. Iklim politik mulai menempati posisi strategis bagi masyarakat. Suara-suara kaum politik mulai sontar terdengar hingga rakyat kecil. Baik mereka yang langsung terjun langsung atau istilah sekarang “blusukan” ataupun yang hanya sekedar memasang visi misi melalui spanduk. Berbagai startegi ditempuh untuk mengambil hati suara rakyat agar menyumbangkan suara mereka untuknya. Tulisan visi misi memenuhi gambar beserta janji-jani. Menjanjikan seputar penyelesaian permasalahan rakyat meliputi berbagai bidang kehidupan.
Selain dari golongan kaum dengan latar belakang politik, bursa pencalonan anggota legislatif juga diramaikan oleh sederet orang-orang berlatar belakang berbeda-beda antara lain : mulai dari kalangan Artis, kalangan Akademis, kalangan Teknokrat, Pengusaha, Santri, Penyanyi, Pedagang, dan rakyat biasa.  Diantara calon anggota legislatif tersebut, dapat kita jumpai calon legislatif yang berlabel kaum pondokan (Santri). Baik mereka diusung oleh partai Islam maupun partai umum. Mereka serta merta ikut memeriahkan burasa calon anggota legislatif negeri ini.
Ketika mendengar kata “Santri/Kaum bersarung” hal yang teringat di benak kita pasti tentang kaum yang bersarung, berpeci, berjenggot tebal, berkalung tasbih, bertumpuk-tumpuk kitab dll.  Rutinitas yang setiap hari dijalani seperti ngaji kitab, ro’an, baca Al-qur’an, kegiatan keagamaan, membantu kiyai dll. Kaum yang masih sering sering didekte sebagai otak dari praktik teroris yang melanda negeri ini. Kaum yang terkenal dengan kedalaman agama serta teguh berpendirian aqidahnya. Kaum yang dikenal dengan keshalihannya. Sejauh yang telah kita ketahui para Santri sering dianggap sebagai kaum yang hanya berkutat tentang keagamaan dan urusan syar’i. Namun, seiring perkembangan zaman kaum Santri mulai menempati posisi penting di negeri ini. Mereka tak lagi hanya mementingkan urusan agama tetapi juga ikut memikirkan negeri ini melalui politik.
Bagaimanakah kemampuan mereka ? akankah mereka bisa sinergis dengan kaum dari kalangan lain ? Banyak dari masyarakat yang memandang kurang sreg mengenai para calon anggota legislatif yang berlatar belakang pondok. Mungkinkah karena minimnya pengalaman tentang dunia politik atau ada alasan lain yang membuat mereka tak menyukai kaum bersarung dalam dunia politik. Bisa jadi mereka telah terbiasa mempercayakan negeri ini bagi kaum dengan berlatar belakang politik. Sebegitu rendahkan persepsi masyarakat tentang keikutsertaan kaum santri dalam bidang politik. Melihat berbagai rentetan permasalahan yang menyangkut para politisi tak lagi menjadi prioritas utama untuk mendominasikan kaum politik. Belum tentu yang berbasic politik bisa memperjuangkan aspirasi rakyat. Tetapi tidak menuntut kemungkinan kaum Santri juga belum bisa maksimal untuk bekerja demi rakyat.
Semua masyarakat Indonesia memiliki hak yang sama untuk ikut serta memperjuangkan atas nama rakyat. Begitu juga kaum Santri, mereka juga memiliki hak yang sama dengan kalangan lain yang memperjuangkan kehidupan politik demi rakyat. Walaupun latar belakang mereka dari kaum agamawan, tidak menuntup kemungkinan mereka lebih bisa memperjuangkan rakyat. Dari segi kualitas agama, mereka memiliki bekal dari segi agama yang matang. Pembelajaran dan pendidikan selama di pondok mungkin bisa dijadikan acuan untuk memperkuat keimanan dan pengembangan diri. Dari segi moral, kebiasaan pendok telah mendidik mereka menjadi insan yang mengerjakan sesuatu tanpa pamrih ikhlasa dan tulus demi mengharapkan ridha Allah swt. Dari segi motif, keikutsertaan mereka dalam bidang politik bukan hanya sekedar untuk mengejar kekuasaan, mengejar setumpuk materi untuk memperkaya diri,  tetapi lebih kepada memperjuangkan kepentingan rakyat dan mensejahterakan ummat (habblumminannas) berharap semata-mata mengharapkan ridha Allah swt. Bukankah dalam Islam telah telah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberikan manfaat bagi manusia lain. Dari segi kualitas kepemimpinan, setiap manusia memiliki citra kepemimpinan sendiri tetapi tidak menutup kemungkinkan untuk meneladani kepemimpinan orang-orang hebat yang telah berhasil dalam memperjuangkan rakyat. Dalam Islam banyak tokoh yang menjadi teladan tentang kepemimpinan antara lain : Nabi Muhammad, Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz dan masih banyak lagi. Beliau telah berhasil menggunakan kesempatan menjadi pemimpin untuk sepenuhnya bekerja untuk rakyat. Mereka mampu membawa peradaban islam menjadi gemilang pada masa itu. Hal tersebut dapat dijadikan teladan oleh para kaum santri yang ikut serta dalam bidang politik. Seperti sebuah petikan hadis, “Kullukum raain wakullukum mas’ullin ‘an ro’iyyatihi”. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjwaban atas kepemimpinannya. Aktivis politik santri harus bisa menjadikan dirinya sebagai wajah Islam dalam dunia politik seperti model uswatun hasanah Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan kebagusan Islam.
Bangsa Indonesia kini sedang dilanda oleh rasa pesimistis. Merasa sudah tak ada lagi pemimpin-pemimpin yang bekerja sepenuhnya untuk memperjuangkan rakyat. Tidak ada pemimpin yang negarawan. Permasalahan korupsi telah menyelinap di segala bidang dan telah masuk dalam kalangan kementrian agama. Kementrian Agama yang diyakini sebagai lembaga yang didominasi oleh kaum agamawanpun telah terjangkit virus korupsi. Jika masih memikirkan tentang adanya kaum agamawan yang terlibat dalam kasus korupsi. Tidak mengurungkan niat para Santri untuk ketakutan kehilangan citra dari masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Anis Baswedan dalam acara Mata Najwa Onstage di UNS 14 Desember 2013 ketika ditanya tentang kondisi pemerintahan indonesia minim pemimpin yang negarawan “ walaupun banyak yang terlibat dengan permasalahan, kita masih memiliki generasi yang peduli genarasi yang mampu mengatasi permasalahan di Indonesia, generasi yang sekarang sedang mempersiapkan diri untuk masa depan Indonesia baik dari kalangan intelektual maupun yang agamawan ” dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan terkait dengan kaum agamawan yang terlibat dengan kasus korupsi di negeri ini, di sisi lain masih banyak potensi orang-orang di pelosok negeri yang bisa memberikan solusi atas permasalahan di negeri ini.
Apapun latar belakangnya semua masyarakat di Indonesia memiliki hak yang sama untuk turut ikut serta dalam dunia perpolitikan. Santripun sebagai bagian dari golongan di negeri ini memiliki peran yang sama untuk ikut memperjuangkan rakyat. Tidak perlu minder dengan status, toh juga Allah menciptakan makhluknya di bumi dengan kesempatan yang sama. Tentang kemahiran atau kecerdasan menurut saya hanya akan bergantung tentang pengalaman mereka dalam mengikuti perkembangan perpolitikan negeri ini. tentang bagaimana mereka mampu membawa diri dengan jiwa kepemimpinannya. Semoga sistem perpolitikan Indonesia diemban oleh orang-orang yang benar-benar tulus untuk memperjuangkan rakyat. Sistem politik yang bersih dan merakyat yang mampu membawa rakyat menuju kesejahteraan. J J J J